Rabu, 02 Februari 2022

Laporan Aksi Nyata Budaya Positif Modul 1.4

 Laporan Aksi Nyata dalam bentuk Tertulis

Menumbuhkan budaya positif dengan keyakinan kelas dalam

proses pembelajaran dan program penguatan karakter sekolah

Oleh Ani Amimah

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

Unit Kerja SMP Negeri 12 Semarang


Latar Belakang

Murid memiliki kepribadian, budaya, maupun karakter yang berbeda-beda, mereka memiliki kebiasaan yang dibawa dari keluarga mereka yang berbeda-beda pula. Misalkan terdapat seorang murid yang berasal dari keluarga yang ekonominya menengah ke atas dimana si murid tidak pernah melakukan aktivitas membersihkan rumahnya, karena pekerjaan rumah dikerjakan oleh asistennya, dan sebaliknya ada murid yang berasal dari keluarga menengah ke bawah di mana semua pekerjaan dikerjakan secara bersama (berbagi) dengan anggota keluarga yang lain, karena tidak adanya asisten di rumah. Hal inilah yang perlu kita sepakati bersama, bahwa semua murid di kelas memiliki kewajiban membersihkan kelas sesuai dengan jadwal yang sudah diyakini. Nah, untuk menumbuhkan budaya maupun karakter yang baik  tersebut diperlukan budaya yang positif , di mana  budaya positif tersebut terlahir dari keyakinan yang disepakati bersama. 

Dalam mengelola sekolah dibutuhkan sistem yang saling mendukung (kerjasama) sehingga budaya positif akan mudah terlaksana dan berjalan dengan lancar. Budaya positif akan mudah diserap dan terlaksana dengan lancar dan baik jika seluruh pihak sekolah (kepala sekolah, guru, murid, karyawan) ikut mempraktikkan nya , misal budaya 5S (senyum, salam, sapa , sopan dan santun) saat bertemu atau berpapasan dengan siapapun, akan menjadi budaya positif jika seluruh pihak sekolah menjalankannya.

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470)

Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri.

Adapun definisi kata ‘merdeka’ menurut Ki Hajar adalah: mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri) Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001.

Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Diane juga menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna. Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Dalam hal ini Ki Hajar menyatakan; “…pertanggungjawaban atau verantwoordelijkheid itulah selalu menjadi sisihannya hak atau kewajiban dari seseorang yang pegang kekuasaan atau pimpinan dalam umumnya. Adapun artinya tidak lain adalah orang tadi harus mempertanggungjawabkan dirinya serta tertibnya laku diri dari segala hak dan kewajibannya. (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima, 2013, Halaman 469)

Budaya positif merupakan kebiasaan atau perilaku positif yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan positif ini sudah membudaya, maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri anak. Lingkungan sekolah, sebagai salah satu lembaga yang punya kepentingan dalam pembentukan karakter anak, sehingga perlu membangun budaya positif tersebut. Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk terbentuknya budaya positif pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas.

Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Dalam menerapkan Budaya positif di sekolah, hal-hal perlu dilakukan oleh guru adalah:

1. Memberikan teladan pada Murid agar bisa jadi contoh

2. Mengakomodir masukan murid terhadap kesepakatan kelas

3. Memasang kesepakatan kelas pada tempat yang mudah dilihat oleh murid di kelas

4.  Komitmen menjaga kedisiplinan murid pada kesepakatan kelas.

5. Kalaupun ada sanksi atas pelanggaran kesepakatan kelas, sedapat mungkin sangsi yang bersifat mendidik, tidak mengandung kekerasan, unsur SARA dan yang bertentangan dengan norma-norma kita.

    Dengan nilai dan peran guru penggerak yang memiliki visi pendidikan sesuai Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu pendidik sebagai penuntun menciptakan kondisi pembelajaran dan lingkungan sekolah yang positif dan berpihak pada murid sehingga budaya positif akan tercapai dan terwujud kebahagiaan dan keselamatan murid baik untuk dirinya maupun dimasyarakat


Tujuan

Budaya positif perlu dipraktikkan di kelas dan di sekolah guna : 

  1. Menanamkan budaya positif yang akan menjadi bekal hidup untuk murid di masyarakat agar mereka  selamat dan bahagia

  2. Menjadikan keyakinan kelas sebagai pembiasaan yang terpola secara otomatis dan membantu mewujudkan profil pelajar pancasila


Tolok Ukur

Untuk mengetahui tingkat keberhasilannya yaitu dengan : 

  1. murid mampu membuat keyakinan kelas melalui hasil kesepakatan bersama yang dipasang di dinding kelas

  2. murid menampilkan keceriaan, bahagia, nyaman hubungan harmonis dalam lingkungan rumah, kelas dan sekolah

  3. murid mampu mengaplikasikan nilai profil pelajar pancasila secara sadar dan konsisten


Linimasa Kegiatan

Pada awal kegiatan dalam perencanaan aksi nyata calon guru penggerak (CGP) melakukan komunikasi dan koordinasi dengan kepala sekolah sebagai pemegang kebijakan sekolah dalam setiap pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan sekolah. Maka dari itu,  setiap kegiatan positif dan bermanfaat bagi sekolah selalu disetujui dan diizinkan untuk dilaksanakan oleh Kepala SMP Negeri 12 Semarang Ibu Sumrih Rahayu,S.Pd,M.Pd.

Aksi nyata ini dilaksanakan pada Bulan Januari 2022 di awal semester genap tahun pelajaran 2021/2022.  Kegiatan diskusi dalam menyusun keyakinan kelas antara guru dan murid dilakukan secara tatap muka di kelas. Hasil musyawarah mufakat warga kelas akan melahirkan butir keyakinan kelas yang akan dijalankan oleh guru dan murid. Pada kegiatan diskusi tersebut CGP membimbing dan memfasilitasi murid dalam penyusunan keyakinan kelas, menumbuhkan , menanamkan dan membiasakan nilai profil pelajar pancasila pada program penguatan karakter, mendokumentasikan, mengevaluasi dan merefleksi.

Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk terbentuknya budaya positif pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas.

Aksi nyata yang dilaksanakan oleh CGP dilanjutkan dengan kegiatan sosialisasi kepada para guru dan wali kelas, pentingnya membuat kesepakatan dan keyakinan kelas serta cara membuat suatu kesepakatan kelas. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Laboratorium SMP Negeri 12 Semarang, pada Hari Jumat, 4 Februari 2022.

Penerapan budaya positif sekolah melalui kesepakatan kelas yang selanjutnya akan menjadi sebuah keyakinan kelas sebagai upaya mewujudkan kepedulian murid dan guru untuk menjaga kesehatan dan lingkungan, serta pembentukan karakter melalui kesepakatan kelas dan keyakinan kelas yang terbentuk


Hasil Aksi Nyata

Hasil dari aksi nyata 1.4 tentang menumbuhkan budaya positif dengan membangun keyakinan kelas antara lain:

  1. Terjalinya komunikasi positif antara guru dan murid dalam bermusyawarah membentuk keyakinan kelas, dalam mewujudkan kelas impian.

  2. Terbentuknya keyakinan kelas melalui kesepakatan kelas yang dibuat bersama guru dan murid.

  3. Semakin tumbuh dan berkembangnya karakter baik pada murid yang menjadi budaya positif.


Refleksi Aksi Nyata

Sebagai Calon Guru Penggerak saya telah memberikan sosialisasi cara menyusun keyakinan kelas dan menginisiasi untuk membuat keyakinan kelas tersebut. Namun, dalam proses pelaksanaan penyusunan keyakinan kelas  sebagai bentuk budaya positif sekolah, tidak sepenuhnya berjalan sesuai dengan harapan, hal dikarenakan masih ada kelas yang belum membuat keyakinan kelas, dikarenakan beberapa alasan antara lain kesibukan, keterbatasan waktu di masa pandemi dan sebagainya.

Dalam menyusun keyakinan kelas murid menunjukkan respon yang positif dan sikap antusias sehingga terjadi komunikasi dua arah, meskipun masih ada murid yang kurang percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya. Keterampilan dan ide atau gagasan yang dikemukakan oleh  murid telah menunjukkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai profil Pelajar Pancasila. Semakin terbiasanya peserta didik berperilaku positif semakin kuat nilai budaya berkarakter melekat dalam diri mereka dan guru teruslah menuntun dan memberi teladan.


Rencana Perbaikan Di Masa Mendatang

Adapun rencana perbaikan di masa mendatang antara lain: komitmen saya selaku CGP untuk tetap berbagi informasi positif demi kemajuan pendidikan dan pembelajaran, mendorong murid untuk lebih percaya diri untuk mengemukakan pendapat, meningkatkan interaksi antara guru dan murid di luar jam pembelajaran, melakukan refleksi dan evaluasi secara rutin dan berkala. 


Dokumentasi dan testimoni



Video  Sosialisasi Modul CGP









 



Jumat, 17 Desember 2021

Modul 1.4

1.4.a.5.2 Ruang Kolaborasi - Unggah Hasil Diskusi Kelompok

                 Kasus 2
                 Hasil diskusi bisa klik di sini

 1.4.a.6 Refleksi Terbimbing- Budaya positif

            Tugas yang saya buat bisa klik di sini

1.4.a.7 Demonstrasi Kontekstual - Budaya positif dengan menerapkan Segitiga Restitusi pada kasus di

            sekolah



Sabtu, 11 Desember 2021

Jurnal Refleksi Mingguan

Jurnal Refleksi Minggu ke 8

Ani Amimah

CGP Angkatan 4 Kota Semarang


Model 4F

Facts (Peristiwa)

Selasa, 7 desember 2021

Mendapatkan kabar kalau semua tugas yang ada di LMS untuk segera di download, karena akan dilakukan pengalihan fasilitator, sehingga jika terjadi sesuatu yang di inginkan peserta CGP sudah memiliki file-filenya. Siang hari segera saya mendownload tugas-tugas yang ada di LMS, dan rencana saya lanjutkan di waktu malam hari, ternyata malam hari LMS sudah terkunci (terrestart) dan tidak bisa didownload. Kemudian saya mengunggah ulang semua tugas modul 1.3, Alhamdulillah bisa terselesaikan. 

Rabu, 8 desember 2021

Mulai membuka modul 1.4 tentang mulai dari diri- budaya positif, disini mengupas tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah. Kami para CGP mendapatkan tugas saling berkomunikasi di kolom jawaban. Alhamdulillah saya berusaha untuk membaca dan memahami semua materinya dan belajar untuk berdiskusi sampai malam sekitar pukul 23.30.

Kamis, 9 desember 2021

Di hari kamis saya membuka kembali LMS dan melengkapi tugas saling berdiskusi dan memberi tanggapan ke peserta lainnya.

Jumat, 10 desember 2021

Pertama kalinya saya masuk room yang fasilitatornya Bapak M. Ali Mas'ud, beliau begitu ramah, sabar, membimbing saya, begitu juga teman-teman CGP dan PP , mereka menerima saya dengan begitu baik, Alhamdulillah sekali.

Fellings (Perasaan)

Perasaan saya saat di minta untuk mendownload sudah gundah , bingung tetapi tetap harus saya laksanakan dengan penuh kesabaran, karena kesabaran dan do'a memohon kepada Allah adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Saat masuk room belajar bersama dengan teman CGP kelompok yang fasilitatornya Bapa M. Ali Mas'ud dan pengajar praktiknya Bapa Nur Rakhmat, hati terasa bahagia, karena beliau berdua dan teman CGP sangat  terbuka dan sangat baik. 

Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran yang saya dapatkan di Modul 1.4.a.3 adalah cara menciptakan suasana yang positif dan berpihak kepada murid, menerapkan disiplin pada murid dan harapan saya yaang terkait menciptakan budaya positif yaitu dengan menerapkan budaya positif di sekolah dan masyarakat. Sedangkan di modul 1.4.a.4 adalah eksplorasi konsep budaya positif yang berisi tentang perubahan paradigma teori kontrol, untuk membangun sekolah yang positif diperlukan lingkungan yang positif dan terdapat 3 motivasi perilaku manusia. Untuk menegakkan kedisiplinan bukan peraturan yang dibutuhkan melainkan keyakinan yang di bentuk secara bersama. Kemudian kebutuhan dasar manusia terdapat lima jenis.Sedangkan untuk menegakkan disiplin siswa di butuhkan 5 jenis posisi kontrol , dimana posisi kontrol harus meliputi segitiga restitusi (menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan).

Future (Penerapan)

Semoga setelah belajar berliterasi, berdiskusi lewat sinkronus maupun asinkronus saya bisa menerapkan budaya positif di sekolah dengan menerapkan lingkungan yang positif , memiliki keyakinan yang dibentuk secara bersama, dan bisa menegakkan kedisiplinan dengan menggunakan 5 jenis posisi kontrol yang bersegitiga restitusi.

 

Senin, 06 Desember 2021

Modul 1.1

 Modul 1.1 

Tugas 1.1.a.3 

Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) merupakan sebuah pemikiran tentang pendidikan dan pengajaran yang berpihak kepada siswa dan mengutamakan pembelajaran yang memerdekan siswanya. Beliau menginginkan siswanya memiliki dasar tertib dan damai, tata tenteram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas. Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti , pikiran meruapakn satu keasatuan yang tidak dapat dipisahkan , yaitu kehidupan yang selaras dengan perkembangan dunia tanpa meninggalkan jiwa kebangsaan. Seorang pendidik  harus mengetahui dan mengutamakan  karakter anak didiknya, tidak boleh ada paksaan sedikitpun. Di dalam melaksanakan pembelajaran siswa di ajak dengan bermain sehingga siswa menjadi krasan dan tidak merasa tertekan. Pelajaranpun akan mudah masuk dan mengena. Sehingga siswa menjadi betah berlama-lama di sekolah.

Sedangkan pendidikan sekarang ini melahirkan seorang yang individualis tak peduli dengan masyarakat sekitar terbukti banyak sekali kalangan muda yang sudah tidak mengenal lagi gotong royong, mereka lebih mengedepankan mencari uang ketimbang melaksanakan gotong royong. Mereka lebih memilih membayar orang untuk mengerjakan segala sesuatunya ketimbang terjun langsung ( ikut berkumpul) dan bergotong royong. Padahal dari sebuah gotong royong akan melahirkan sebuah pribadi yang  santun dan peduli terhadap tanah air Indonesia tercinta ini.  Faktor keluarga juga sangat mempengaruhi atas perkembangan seorang anak, Orang tua yang ogah-ogahan dalam mendidik anaknya untuk mengikuti segala kegiatan sosial akan berdampak pada rapuhnya dalam mencintai tanah air tercinta ini.

Pembelajaran yang saya lakukan selama ini alhamdulillah sebagian besar sudah mengacu pada pembelajaran Ki Hajar Dewantara, Saya sering mengajak anak untuk melaksanakan pembelajaran di luar kelas dan berdiskusi secara berkelompok dengan anggota kelompok yang menentukan adalah saya. Dan pemantapan yang sering saya lakukan kepada anak didik adalah meminta setiap anak untuk mencari sebuah permasalahan yang ada di sekitar mereka kemudian mencoba untuk menyelesaikannya. Mereka saya minta untuk berkomunikasi dengan warga sekitarnya. Selain itu saya juga sering memberikan pembelajaran dengan melalui sebuah permainan seperti permainan ular tangga.

1.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Refleksi Diri Tentang Pemikiran Ki Hadjar Dewantara 

            ( berbentuk audio)


1.1.a.5.2. Ruang Kolaborasi - Unggah Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran KHD



1.1.a.6 Refleksi terbimbing presentasi kerangka filosofis merdeka belajar


Pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapatkan setelah mempelajari secara mendalam pemikiran KHD adalah Pendidikan yang didasarkan pada kodrat alam dan kodrat zaman,

Kodrat alam di ibaratkan sebagai petani , dan petani hanya bisa merawat dan memelihara tanaman agar tumbuh dengan baik, tetapi tidak bisa merubah kodrat tanaman itu sendiri misalnya padi yang kita tanam tidak akan berubah menjadi jagung. Pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan.

Kekuatan saya dalam menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru adalah Saya berusaha mengikuti perkembangan ilmu teknologi di bidang pendidikan, saya senang mengajak anak untuk berdiskusi secara klasikal, dan Alhamdulillah saya menguasai aplikasi pembelajaran dan berusaha menggunakan media sosial sebagai media pembelajaran , Kerana inovasi dalam mengembangkan metode pembelajaran menjadi sangat menarik di zaman sekarang.

Hal yang perlu saya ubah dari diri saya agar dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru adalah konsisten dalam menerapkan ilmu dan saya harus berani memulai hal yang baru mencoba berbagai metode dan selalu bersikap terbuka dengan perkembangan yang ada.

Perubahan kongkret yang akan saya lakukan setelah memahami pemikiran KHD adalah mengevaluasi diri terkait pembelajaran yang saya lakukan agar menjadi teladan bagi peserta didik. lebih mengembangkan karakter di setiap proses pembelajaran ( percaya diri, ,jujur, berani dan bertanggung jawab) serta mengajak peserta didik untuk lebih komunikatif.





1.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pemikiran Filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam Karya





1.1.a.8. Elaborasi Pemahaman - Konferensi ‘Pemikiran Ki Hadjar Dewantara’ oleh Perguruan Taman Siswa dan sekolah lain yang sudah menerapkan Merdeka Belajar


( menyimak instruktur)



1.1.a.9 Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara




Senin, 22 November 2021

Modul 1.3 

Jurnal Minggu Ke-6  ( tanggal 21 s.d. 28 November 2021)



Tugas 1.3.a.6 Refleksi Terbimbing - Visi Guru Penggerak

Di saat membuat tugas merumuskan visi pribadi mengenai murid , saya membayangkan dan berkeinginan memiki murid yang berkarakter baik, inovatif , bernalar kritis, dan menguasai teknologi . Keinginan itu akan terwujud jika di dukung oleh semua pihak . Sedangkan pihak yang mendukung menjadi kekuatannya terbagi menjadi dua yaitu kekkuatan utama dan kekuatan pendukung lainnya , kekuatan utama terletak pada  murid,dan guru sedangkan kekuatan pendukung adalah kepala sekolah, rekan guru, wali murid, komite, gedung, Keluarga, Pengawas. Di mana jika kedua jenis kekuatan itu saling mendukung insyaallah apa yang menjadi keinginan akan terwujud dengan baik. Sedangkan strategi yang perlu saya siapkan untuk mencapai perubahan adalah lebih meningkatkan analisis pemetaan kekuatan yang positif pada diri saya dan aset pendukung lainnya, di samping itu saya juga melakukan refleksi diri dan lingkungan sekitar serta terus bergerak dan mengembangkan diri dan orang lain dalam membuat perubahan.

Tugas 1.3.a.5 Ruang Kolaborasi Pemetaan Kekuatan Visi Guru Penggerak 


Untuk  mewujudkan sebuah visi perlu sebuah kekuatan, kekuatan yang utama ada pada CGP dan Murid, Sedangkan Kekuatan yang mendukung ada pada Kepala Sekolah, Pengawas, Rekan Guru, Gedung, Komite dan Orang Tua

Tugas Galery Walk 

Pemetaan Kekuatan Untuk Mencapai Visi Guru Penggerak 




 Tugas 1.3.a.3 Mulai dari Diri - Visi Guru Penggerak



 

Jurnal Refleksi Minggu ke 5 ( tanggal 15-21 November 2021)


untuk tampilan lengkapnya bisa di klik sini


Tugas Modul 1.2.a.9 Tentang Koneksi antar Materi - Nilai dan Peran Guru Penggerak




Minggu, 14 November 2021

Jurnal Refleksi Minggu ke 4

Jurnal Refleksi Minggu ke 4 dalam mengikuti Program Guru Penggerak 

Ani Amimah

CGP Angkatan 4 Kota Semarang

Model 4F

Fact 

(Senin, 8 November 2021 : Pukul 20.00 WIB)

Belajar bersama deng fasilitator dan CGP di kelas 078 dalam kolaborasi nilai dan peran guru penggerak modul 1.2.a.5 dalam forum umum CGP  berdiskusi terkait penugasan presentasi dan kemudian diarahkan menuju forum kelompok yang membahas lebih detail tentang nilai dan peran guru penggerak dan implementasi di sekolah berkolaborasi dengan teman sejawat sungguh menyenangkan berbagi ilmu

(Rabu, 10 November 2021: Pukul 13.00 WIB) 

Ruang Kolaborasi Presentasi Nilai dan Peran Guru Penggerak

Presentasi dan kolaborasi masing-masing kelompok dalam membuat kesimpulan berdasarkan pengalaman dan aksi yang bisa dilakukan untuk menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak didalam pembelajaran dan sekolah

(Kamis, 11 November 2021 : Pukul  00.30 WIB)

Ruang kolaborasi unggah tugas nilai dan peran guru penggerak . Yang telah dipresentasikan kelompok yang telah disempurnakan dari hasil diskusi bersama kelompok lain

(Jumat,12 November 2021 : Pukul 01.15 WIB)

Refleksi terbimbing nilai dan peran guru penggerak . Tentang nilai dan peran yang ada  yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpusat pada murid serta bagaimana menguatkan peran seorang guru penggerak.

( Ahad, 14 November 2021 : Pukul 14.00 WIB)

Demonstrasi Kontekstual nilai dan peran guru penggerak dalam karya komik. Dengan karya komik memahamkan saya tentang modul ini. 

Feeling

1. Bahagia lebih memahami hakikat nilai dan peran guru penggerak

2. Semangat bisa saling berbagi dan menguatkan antar CGP dan fasilitator

3. Percaya diri dalam menyampaikan pendapat, berinteraksi dengan peserta lain

Findings

Hal yang saya temukan dalam minggu ini adalah nilai-nilai seorang guru penggerak diantaranya: mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpusat pada murid. Kemudian peran seorang guru penggerak adalah : menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Future

Selanjutnya saya akan tingkatkan nilai dan peran guru penggerak terutama nilai kolaborasi . Berkolaborasi dengan pendekatan secara persuasif pada teman sejawat untuk menciptakan pembelajaran berpusat murid. Berkolaborasi dengan siswa dan wali murid dalam observasi bakat minat serta meningkatkan kompetensi diri dalam pembelajaran berbasis teknologi. dan melaksanakan refleksi memaknai mengevaluasi segala kegiatan dan pengembangan yang telah dilakukan



                                                        




Aksi Nyata Modul 3.3 ( Pengelolaan Program yang berdampak pada murid)

Artikel berikut ini merupakan aksi nyata saya dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid saya mengambil program yang saya beri judu...